12 September 2016, Foto Kampung Orang

Beberapa hari yang lalu, saya dapat notifikasi dari Facebook.com seseorang telah menandai saya sebuah foto entah itu foto apa. Pikirku palingan itu hanya foto dengan caption kata. Jadi saya mengabaikan notifikasi tersebut.

Namun, tadi sore ini saya membuka akun facebook saya dengan nama I Bennu ternyata bukan notifikasi dengan gambar aneh tapi foto waktu saya masih belajar kitab tanpa kharakat kalau orang sini menyebutnya dengan kitta' gondolo. Fotonya seperti ini. Letaknya di Sulawesi Barat, Polewali, Balanipa, Desa Pambusuang.

Yang menulis itu saya, bukan orang lain

Kalau tidak salah saya menulis kitab sharaf ghaloppo waktu itu. Maklum, ingatan saya lambat jadi saya menulis semua kitab yang saya pelajari. Saya lebih suka menulis karena saya sering lupa makanya saya menulis jadi kalau saya lupa, saya hanya tinggal baca tulisan yang pernah saya tulis. Walau sedikit ribet tapi menyenangkan.

Saya dapat membuka tulisan saya, terkadang saya berkata Ini tulisan hancur banget, kayak cakar ayam disitulah saya kadang merasa seperti orang gila. Senyuman sendiri, tertawa sendiri sampai orang lain negur. Saya hanya bisa menjawab Cerita lama yang terbuka kembali. 

Jika suatu saat nanti saya tua atau saya sudah punya anak atau cucu jika mereka membaca tulisan ini semoga mereka bisa mengambil langkah untuk berani belajar di kampung orang. Seperti saya dan teman-teman saya kala itu di Pondok Pesantren DDI Takkalasi.

Sekian dan Terima kasih.

Cukuplah

Aku tidak seperti mereka yang pernah bersandar padamu sambil menghelus kepalamu dan berkata jangan khawatir aku ada disini. Setiap kali aku melihatmu bersedih aku bahkan tidak bisa untuk menghiburmu, disaat kau mengingat seorang yang telah lama bersamamu dan meninggalkanmu bersama nisan. 

Aku hanya bisa apa? mencoba menjauhimu tapi aku sangat mencintaimu. Mencoba memarahimu dan kau akan menganggaku tidak berperasaan. Aku tidak ingin seperti negatif yang ada dipikiranmu. Tapi aku sadar aku hanya hitungan waktu dari dia yang telah bernama dinisan.

Sadarlah aku ada disini, mencoba menghiburmu tapi hatiku termakan cemburu oleh rasa sayangmu terhadapnya. Aku mengakuinya kalau dia terbaik dariku. Tapi tolong sadarlah, Aku disini.

Aku lebih memilih untuk bernama dinisan jika aku harus melihatmu seperti ini, kau menghelus nisan itu sambil menangis terseduh-seduh dan mataku tidak dapat berpaling, mencoba kuat walau hati berderai perahan air darah terbakar habis dalam rebusan api cemburu.

Aku lebih memilih bernisan disana, dari pada aku harus berdiri disini melihatmu terseduh dengan air mata. Butiran air mata itu jatuh seakan kau tidak menerima aku berada disisimu.
Lalu apa makna dari hanya kau yang bisa membuatku berpindah dari hati yang telah berbatu ke hati yang lebih hangat. Apa? Aku sadar akan hal itu.

Cukuplah, Aku ada disini! disampingmu yang mencoba menghiburmu, yang mencoba menasehatimu, yang mencoba mengingatkanmu.
Cukuplah, Doakanlah dia disetiap sujudmu, walau bagaimana pun aku tidak akan bisa seperti dia, caranya mencintaimu. Aku seperti ini, seperti yang kau lihat. Hingga janji itu terwujud.

Cukuplah untuk dia, sekarang untukku. Waktu ini untukku bukan lagi tentang dia. Aku mencintaimu melebihi dia karena aku disini bersamamu. Aku mencintaimu selayak pendahulu kita. 

Sekian dan Terima kasih.

Satu Pandangan Dengan Hitungan Detik

Kemarin kau mengalihkan perhatianku setiap aku melihatmu dengan senyuman manis itu yang menghiasi wajahmu seraya mata ini tertunduk memohon ingin memandangmu lebih dan lebih lama lagi.

Tidak ada yang membahagiakan ketika itu terwujud dan tidak ada yang lebih menahan hati yang berusaha ingin bersamamu namun nyatanya tidak setatap. Ini hanya masalah yang terjadi padaku yang tidak dapat berpindah dari hati kenangan ke hati lembaran.

Kau cukup jujur padaku dan akupun begitu cukup jujur denganmu, Maaf ini hanya harapanku dan akhirnya ini terjadi lagi. Aku hanya bisa jujur seperti yang lalu yang dimana Dia mengajariku untuk jujur dari pada harus menjadi beban yang akan mengganggu hal lainnya.

Aku hanya pecahan berlian yang dilemparkan kedalam lumpur yang tidak tahu jalan untuk memilih dan melihat hanya terbawa arus hingga ada kau yang ingin membersihkan berlian itu dan merawatnya.

Kau dan aku adalah benda pemberian orang tua, menyatukan kita dalam satu pandangan dan pemikiran yang sama walau itu hanya hitungan detik, setidaknya kau dan aku pernah berpikir yang sama hingga akhirnya tidak ada lagi pandangan itu dariku, yang selama ini kupikirkan kembali bersama kata-kata yang kutulis rapi dalam sebuah jurnal blog yang kelak kau akan membaca.

Sekian dan Terima kasih.

Tulisan Yang Menggambarkan Perasaan

Sudah lama aku bergelut dengan jutaan kata yang tertulis rapi dalam setiap media sosial dan buku harian sebelum saya mengenal media sosial itu. Aku lebih suka dengan menulis dari pada angkat bicara terserah Anda mau menilai dari mana, pengecut atau hal lainnya itu sama bagi saya.

Tulisan ini memberikan saya harapan yang pasti, karena aku dapat mengubah kisah yang tidak sesuai dengan cita-citaku selama ini. Seperti pada buku yang pernah saya tulis Nyoknyang dimana kota Barru tidak lagi disebut dengan kota mati lagi. Walau sekarang masih dengan julukan kota mati.

Tulisanku hanya menggambarkan tentang perasaanku yang hampa akan sosokmu, kau yang pernah berjanji pergi pada akhirnya. Sejak saat itu saya mengutip kata dari komika pujangga wira nagara 'Kau yang punya pacar, yang kau pamerkan disetiap senja yang berlabuh jangan terlalu sombong karena pada akhirnya akan menjadi orang yang harus kau relakan bahagia dengan orang lain'

Aku pernah berpikir untuk tidak mengumbar perasaan ini walau menggebuh, merontah ingin memilikinya. Aku lebih memilih untuk mendiamkannya dan jujur dengan perasaan yang sama. Mau bagaimana lagi aku tidak seperti Anda yang punya kelebihan, aku dipenuhi dengan kekurangan ini nyata melekat pada tubuh saya sebagai manusia.

Perasaan bagaikan tulisanku yang tidak bertuan yang semua orang dapat membacanya tanpa menjadi pembaca setia. Diacuhkan, hanya lewat itu ciri tulisanku saat ini.

Jangan heran dengan tulisanku selama ini, buku-bukuku dan kata yang tidak bermakna apa-apa. Semua itu menggambarkan perasaanku selama ini.

Sekian dan Terima kasih.

Kau Adalah Janji Yang Harus Kutepati

Seketika aroma dari keharumanmu menyadarkanku bahwa kau ada disekitarku, membawa kenang-kenangan yang tidak bisa kulupakan. Beradu pada hawa nafsu yang mengutarakan aku cinta kamu. 
Jika saat itu kau tidak memikirkan hal yang sekecil itu mungkin kau masih disini bersamaku memadu rasa. Namun dengan itu aku tersadar kalau selama ini aku bernyanyi bersama syaitan.

Kau yang mangajariku untuk berjanji menjadi seorang Hafidz.
Kau yang mengajariku untuk menjadi seorang yang setia pada wanitanya.
Kau yang memperkenalkanku pada orang tuamu.
Kau juga yang berkata 'Aku ingin mengakhiri ini'

Kata itu tertanam jelas, disetiap pembuluh darah pada tubuhku. Kata ituah yang kau ucapkan padaku layaknya ludah yang kau luncurkan di wajahku. Harapan akan dirimu terbentuk kembali akan semua yang telah kau berikan hingga berakhir.

Class Mild ini menunggu seorang wanita untuk mencabutnya dari mulutku. Semerbak wangimu mengitariku dikeramain ini, menoleh layaknya seorang yang kehilangan. Hanya ada perasaan yang tidak terbentuk dengan nyata.

Sekian dan Terima kasih.

30 Agustus 2016, OPAK Terakhir

Hari terakhir OPAK, tidak akan makan gratis dan cemilan lagi. Seperti biasa saya menghabiskan rokok satu batang sebelum saya sampai di kampus hijau STAIN Pare-pare. Hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi kami para peserta OPAK.

Mau bagaimana lagi, ini sudah direncanakan dan tidak bisa dipertimbangkan lagi. Sungguh saya sebagai peserta sangat menunggu momen terakhir ini. Untuk terakhir kalinya bagi saya memperkenalkan diri di OPAK ini dan saya yakin saya lulus.

Ibnu Rasyid, nama yang sederhana itu melekat dan mendarah daging bagi saya. Banyuwangi kota kelahiran saya. Tiga Maret kebahagiaan orang tua saya. OPAK bagi saya adalah batu loncatan untuk memulai kembali hal yang pernah terkubur dalam diri saya.

Dzikir, mengajarkan saya mengingat kembali Tuhan Yang Maha Esa dan kembali mengingat pelajaran berkode islam yang pernah saya tekuni.

Pikir, mengarahkan saya untuk kembali menjadi seorang pemikir keras, berwawasan luas dan imajinasi yang melambung tinggi menembus sub-atom yang belum pernah diketahui dimasuki oleh para ilmuan.

Ukir, kata yang sudah tidak asing bagi saya yang sering bergelut pada media percetakan. Menjadi seorang yang kreatif itu hal biasa bagi saya kalau saya punya pemikirian kreatif itu dengan prestasi sederhana.

Amanah, bagi saya adalah kata yang sangat sulit dan sangat mengecewakan bagi saya, amanah adalah harga diri yang sangat sulit saya jaga. Dimata orang tua, para guru/dosen, teman dan kalian. Sulit untuk menjaga harga diri dengan amanah. 

Hanya batu loncatan bagi saya. 

Seperti biasa, senam pagi kemudian memasuki materi terakhir. dan penutupan. hanya itu saja kegiatan hari ini namun cukup menguras tenaga dan hawa keberadaan.

Para peserta dipersilahkan untuk berdiri setelah menerima arahan untuk kegiatan selanjutnya bagi para mahasiswa baru. Kami dipersilahkan untuk berdiri dan suara diruangan ricuh seperti pasar. Para pendamping OPAK berteriak keras dalam mic namun hanya beberapa orang yang mendengarkan untuk membuang sampah. Ada apa dengan sampah itu? begitu bernajiskah bagi kalian, jika begitu bernajis maka kalian juga bernajis karena kalian memakan hal yang bernajis itu. 

Saya hanya tinggal duduk melihat, hanya beberapa orang saja. Mencari kawan untuk membantu saya mengumpulkan sampah makanan dari kalian. Saya kumpulkan dalam satu tepat agar nantinya para pendamping bisa langsung mengangkutnya ke mobil sampah.

Ingin pulang ke kost namun masih ada yang perlu saya harus lakukan belajar mengaji, saya belum tahu mengaji dan masih banyak yang salah dalam penyebutannya.

Setelah itu saya mendapat browser organisasi eksternal Cytech Community, setelah saya baca, organisasi ini keren bagi saya sama halnya dengan RedLine.

Sekian dan Terima kasih.

29 Agustus 2016, OPAK Ketiga

Seperti pada hari pertama dan kedua, menghabiskan dua batang rokok Class Mild sebelum masuk kedalam kampus hijau STAIN Pare pare. Setiap pagi selama OPAK saya harus senam pagi bersama dengan peserta lainnya. Walau saya tidak bisa kecapean tapi dengan hal yang saya dapatkan dari kelompok 37, rata-rata orang stres serasa saya tidak berpenyakitan.

Saya seorang yang bertubuh tinggi kalau Anda melihat saya, pasti Anda berpikir tentang kesehatan kalau saya sehat pada umumnya namun saya bukan orang sehat yang Anda pikirkan. Saya orang yang berpenyakitan yang mencoba untuk menyembunyikan penyakit ini. Saya takut Anda akan menjauh dari saya.

Setelah senam pagi, Saya diarahkan menuju ke ruangan untuk menerima materi seperti biasanya. Berjalan dengan menunduk layu seperti itulah gaya saya. Bukan orang bungkuk berjalan tapi itu sudah kebiasaan bagi saya dengan berjalan dengan menunduk layu.

Seperti pada hari kemarin OPAK, sebelum memasuki materi inti kami harus terlebih dahulu berdzikir bersama karena sebagai tema pada OPAK Tahun 2016 "Dzikir, Pikir, Ukir dan Amanah" dan saat berlangsungnya dzikir ada beberapa perempuan, bathinnya terganggu oleh makhluk gaib.

Orang yang manja wajahnya bagi saya, walau sedikit seperti kucing. Terganggu juga dihadapan saya, sebagai seorang yang satu komplotan dengannya saya hanya bisa melihatnya dan menunggu panitia datang menghampiri tapi mereka sibuk dengan peserta yang kesurupan. Saya mencoba dengan menyentuhnya dengan beralas tangan menutup matanya sambil menenangkan kekosongan pikirannya seperti yang saya pelajari di pondok pesantren saya walau hanya satu tahun dan lulus.

Setelah itu, Materi inti berlangsung dengan membahas organisasi mahasiswa, Semua cabang dari organisasi kampus hijau STAIN Pare pare hadir memperkenalkan diri, memamerkan organisasi mereka, dan mengajak para calon (peserta) untuk bergabung dalam organisasi mahasiswa.

Namun organisasi RedLine membangunkan saya untuk bertepuk tangan, alasannya karena saya ingin masuk dalam organisasi tersebut. Tapi saya belum minat untuk masuk organisasi mahasiswa.

Entahlah untuk kedepannya bagaimana ?

Ishoma dan kembali memasuki materi kedua, mengenal jurusan masing-masing. Saya jurusan Dakwa Dan Komunikasi prody Komunikasi Penyiaran Islam dan dari jurusan Dakwa Dan Komunikasi hanya memiliki mahasiswa baru berjumlah 300 lebih. Memang, untuk Dakwa Dan Komunikasi masih memiliki sedikit mahasiswa. Tapi saya sebagai mahasiswa Dakwa Dan Komunikasi tidak merasa kecil dikarenakan mahasiswanya sedikit namun saya merasa senang karena mahasiswanya sedikit.

Hawa panas, ngantuk, berminyak dan lain-lainnya tercampur dalam satu aula yang memberikan bau yang tidak umum bagi peserta OPAK. Tapi walau begitu saya bangga dengan acara ketiga ini karena tinggal sehari lagi OPAKnya akan berakhir.

Kembali bersatu dalam ruangan yang dipisahkan menyanyikan lagu mars, hymne STAIN Pare pare dan Indonesia Raya. Pikir saya, mungkin untuk acara penutupan besok menyanyikan ketiga lagu tersebut. Kemudian kembali berdzikir penutup untuk hari ketiga ini dan back to home.

Saat saya duduk menyendiri bersandar, seorang wanita yang saya kagumi, saya sayang dulu dan saya ingin bersamanya, menyapa saya saat mata saya tidak dapat melihat jelas dari jauh siapa dia.
Seperti pada hari sebelumnya di OPAK sebelum saya pulang saya sedikit berbincang dengan para senior tentang pendapat mereka, kuliah mereka dan hal lainnya hanya untuk saya tuliskan dalam blog ini.

Keparkiran motor, mengeluarkan motor dan berangkat bersama teman menuju penginapan dan istirahat.

Sekian dan Terima kasih.

28 Agustus 2016, OPAK Kedua

Sama halnya dengan hari pertama, habiskan rokok dua batang sampai di STAIN Pare. Hingga dengan senamnya. Namun kali ini senamnya cukup berbeda dari yang lain, senamnya kali ini senam otak yang menggunkan gerakan tangan. 

Setelah itu kembali seperti biasa yang membosankan namun seru, menerima materi OPAK, rasa ngantuk yang menghantui sisi kanan kiri saya, keringat yang keluar dari pori-pori wajah yang kepanasan. Lebih panas dari saat kau berhadapan dengan pacar baru yang ingin kau cium namun takut karena ketahuan atau kepanasan saat melihat wanita berjilbab tertutup aurat dengan wajah cantik dan sedang menghampirimu setelah itu orang disekitarmu berucap, salut dan tidak percaya.

Rasa tidak nyaman, merangkul tubuhku membuatku tertunduk ingin tertidur namun tidak lama dari itu teriakan seperti seorang yang sedang memanggil pencuri. Teriakan keras serak-serak cempreng, seketika memutar kepala para peserta dan menaikkan leher yang tadinya layu kembali berdiri seperti saat kau melihat seorang wanita dipinggir pantai dengan body yang kau cintai atau sebaliknya juga.

Yah, kerasukan. Bagiku hal biasa yang terjadi disekolahku dulu hingga sekarang itu hal biasa. Mau bagaimana lagi saya diajarkan untuk bagaimana menetralisir orang yang kerasukan, membentengi diri dari hal yang seperti itu dan hal serupa lainnya.

Saya sebagai seorang peserta OPAK, sangat tidak setuju dengan bapak dan panitia yang berkata Hari kedua OPAK, jika masih ada yang panjang rambutnya kami akan cukur. Nyatanya dari awal masuk OPAK kedua, hingga akhir acara masih ada yang menggunakan rambut diatas dua atau tiga centi meter.

Kenapa mereka bisa melupakan kata yang mereka katakan sebelumnya dengan begitu mudah. Atau itu hanya gertakan untuk kami yang taat aturan atau mereka tidak dapat mencukur peserta OPAK?

Hingga akhirnyapun sama dengan hari pertama OPAK, dengan suasana sama, warna yang sama, dan jiawa yang sama saat meninggalkan kampus hijau STAIN Pare pare. 

27 Agustus 2016, OPAK Pertama

Saya terlahir sebagai anak yang aneh begitu juga dengan kalian. Jadi jangan paksakan untukmu menjadi orang yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kenapa tuhan menganggap saya dan kalian itu sempurna, bukan sempurna dalam Saya punya segalanya tapi sempurna dalam penciptaannya.

Allah menciptakan saya dan kalian dengan elemen berbeda namun dengan dasar tanah itu sendiri.
Allah memberikan saya dan kalian akal agar tahu mana halal dan haram.

Itu sudah cukup untuk menjelaskan kepada Anda sempurna dalam hal apa. 

Begitu juga dengan pada hari ini setelah menghabiskan dua batang rokok diperjalanan, tibalah saya dikampus STAIN Pare-pere, mataku tidak tertuju pada wajah cantik dan ganteng mereka melainkan tertuju pada warna pakaian mereka yang berkumpul pada satu lapangan.

Hitam peci dan jilbabnya
Putih kemejanya, dan
Hitam celana dan roknya.

Mataku tertuju pada itu, benak saya waktu itu Hebat kurang ajar mau bagaimana lagi saya telah menganggur keliling provinsi hanya untuk belajar. Menyegel untuk sementara kehausan akan ingin dan tidak kuliah?

Pada umumnya selalu ada senam pagi hari, tidak bisa dielakkan hal seperti itu, pasti terjadi jika mereka panitia ingin mengadakan senam untuk calonnya (peserta). Senam sambil diiringi lagu Kun Anta mungkin judulnya, bahkan tangan dan kaki tidak tahu untuk bergerak dari mana. Mata tidak dapat melihat jauh seperti kalian, mata saya rabun jauh tidak seperti kalian. Saya hanya tinggal berdiri sambil memperjelas penglihatan saat itu dan hasilnya masih sama seperti fatamorgana.

Kemudian pembukaan yang cukup membuat saya mengantuk menyandarkan kepala pada pagar besi lantai dua bagian depan yang kurang tahu apa tersorot kamera atau tidak. Yah, cukup mengantuk waktu itu. satu jam menjadi malam untuk seharian.

Dilanjut dengan materi tentang STAIN Pare, kemudian dilanjutkan kembali dengan materi dan cemilan. Saat materi kedua mulai berlangsung suasana kembali ricuh seperti sekumpulan ayam yang berkokok minta serpihan makanan. Begitu ibaratnya. Cukup kasar tapi itu nyata pada OPAK Pertama kali ini.

Panas, keringatan, dan Haus itu pantas untuk kami (peserta) hanya bisa menelan ludah untuk menghilangkan haus sejenak.

Shalat sudah wajib dan harus menjadi darah daging kami laksnakan, mengikuti materi lagi dengan wajah yang berminyak, keringat. Harus menerima resiko, mau bagaimana lagi sudah wajar untuk kami.

Hiburan dengan dangdut yang meruntuhkan gedung dengan teriakan histeris penonton dari kami. Dengan wajah yang gembira dan bahagia diakhiri dengan wajah murung dan lesuh mereka dikarenakan acara terakhirnya dzikir bersama.

Ada apa dengan dzikir bersama? lesuh dan murung. Pikiran mereka hanya ingin pulang dan Dzikir ini sangat bertujuan pada diri Anda. Hanya bisa mendengarnya dengan seksama sambil menghayati apa yang pernah terjadi dulu pada saya.

Sekian dan Terima kasih.

Hanya Alasan

Dari dulu aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu bahkan dengan sifatku yang hina ini aku sama sekali tidak ingin meninggalkanmu.
Aku berharap padamu karena aku bukan orang yang mudah mencari penggantimu. Apa yang salah, bosan? Mari kita bersama menyikapinya. Gitu-gitu terus? Bantu saya untuk mengetahuinya.

Jangan gunakan alasan Kamu tidak peka jujur saja itu lebih baik dari pada harus menggunakan kata itu. Ketika kata itu terucap dari mulutmu, kau mulai menjauh dengan alasan klasik.

Kumencoba untuk memperbaikinya walau kau sering berkata Gitu-gitu terus kalau begitu, bantu saya untuk mengubah dengan hal yang baru. Jika kau ingin pergi katakan saja dengan jujur. 

Karena aku lebih menghargai kejujuran walau aku merasa sakit tidak tertahan.

Aku sayang padamu, kata itu sering kuungkapkan padamu hingga telingamu panas dengan hal yang sama, untukmu agar supaya tidak jauh dariku. Sebuah alasan untukmu agar kau tetap disini.

Sekian dan Terima kasih.

Kau Menjadi Arsipku

Aku tidak pernah melupakan sedikitpun dari kau yang pernah bersamaku. Aku bukan orang yang mudah melupakan bahkan aku tidak pernah melupakanmu, Sering kuperhatikan lelaki yang ditinggalkan oleh pacarnya dan punya pacar lagi bukan berarti dia melupakan pacarnya tapi dia berani mengambil langkah terbang satu, beli lagi. Itu sudah pasti.

Jadi begitulah Aku yang tidak bisa melupakan kau yang pernah bersamaku. Kau menjadi arsip yang harus kususun rapi setelah sekian lama kuhamburkan sebelum itu aku kembali membaca arsip itu dan mengingatkanku akan dirimu.

Terkadang tawa, air mata, dan senyuman yang hadir ketika membaca arsipmu. Kuberpikir untuk membacanya bersamamu tapi itu tidak bisa karena kau menguliti lidahmmu sendiri dan berkata Aku tidak pernah mengatakannya

Hanya ada satu hal yang pasti, kau akan terdiam ketika aku berdiri didepan pintumu dengan berkata Aku ingin melamarmu.

Arsip itu kususun rapi dan menyimpannya dalam hati dan saat aku merasa jenuh tinggal kubuka arsip itu dan membaca kembali kisahmu bersamaku.

Hanya sebuah arsip yang tidak berarti dihadapanmu.

Sekian dan Terima kasih.

Kata Yang Bernostalgia

Ini hanya sebuah kata jadi jangan khawatir bagi kau yang tersingung. Ini bermula saat kumelihatmu dengan sekilas namun sekarang aku bisa melihatmu bukan lagi tapi memandangmu dengan jelas didepanku. Kau yang menikmati es krim, wajahmu begitu bahagia hanya karena sebuah es krim yang kau nikmati.

Kubahagia melihatmu dengan senyuman seperti itu, Akupun berpikir untuk menjadikanmu yang terakhir, menjadikanmu yang terakhir.

Sebuah kata yang mengingatkanku akan dirimu, kau yang mengubahku seperti ini dengan sikapmu yang seperti itu sudah membuatku seperti ini. Aku senang denganmu, bahagia denganmu dan cinta denganmu. Namun akhirnya saat kuberusaha menjadikanmu yang terakhir ini sangat sangat sakit.

Sakit, sebuah kata yang tidak dapat kukatakan saat itu terjadi. Seperti sebagian dalam hidupku berguguran. Itu hanya karenamu.

Namun itu hanya sebuah kenangan yang kutuliskan dalam blogku ini. Kau menjadi kata dalam tulisanku semua yang kau berikan padaku selama ini. Mau bagaimana lagi ini caraku bangkit dari bisikan syaitan waktu itu.

Tentangmu menjadi kata kenangan yang dapat kubaca ulang ketika ingatanku tidak bisa lagi meningat semua tentangmu. Aku senang dengan tulisan ini. dengan semua yang kau berikan padaku.

Sekian dan Terima kasih.

Kau Bagaikan Ludah Bersama Lalat

Ini bermula disaat kau pergi dengan kata yang tidak pernah kupikirkan selama ini. Kala itu kau berjanji dihadapanku sambil menyandarkan kepalamu dipundakku namun saat ini debu kenangan dari sandaranmu itulah yang membuatku seperti ini.

Aku senang dengan kepergianmu namun dilain sisi aku terseduh-seduh memanggilmu kembali. Kau yang mengajarkanku untuk menjadi lebih baik dalam gelapnya hatiku. Kau bagaikan cahaya berbalut gelapnya hatiku. Memberikan warna dalam gelapku hingga akhirnya aku berpikir untuk bersamamu.

Seiring dengan berjalannya kita dan waktu tidak dapat kupungkiri kau pergi dengan kata yang tidak pernah kupikirkan. Aku bertanya namun dirimu berceloteh menyangkal semuanya dengan alasan klasik yang membuatku terdiam.

Kau bagaikan, namun sekarang ini kau bukan lagi bagaikan tapi kau berbagi ludah bersama lalat.

Sekian dan Terima kasih.

16 Agustus 2016, Putar Balik WC

Ada hal dimana saya membenci keadaan ini, berpakaian rapi dan siap berangkat namun dalam tiga langkah saja semuanya berubah. Pakaian yang tadinya rapi untuk menata masa depan yang belum pasti, untuk hari ini. Dalam jangka satu menit semuanya semuanya berubah. Berjongkok di jamban sambil menghelus-helus perut.

Ini keadaan yang membuat saya benci pada diri saya sendiri. Hanya bisa jongkok di jamban menunggu hal biasa itu keluar dengan pedisnya walau itu encer. Kalian pernah merasakannya tidak usah mengelak saya tahu kok. Kita sama-sama mengerti bagaimana rasanya bukan cuma kalian saja ada saya disini juga.

Benar, membuat saya marah pada diri saya sendiri sambil berkata apa yang kamu makan lagi sambil memikirkan makanan yang kemarin telah dimakan dan masih dalam keadaan jongkok di jamban.

Jamban itu seperti tempat tampungan kotoran yang keluar dari depan dan belakang, atau bisa disebut closet bukan close up atau bisa juga bahasa kasarnya tempat taimu atau bisa juga bahasa halusnya pergi cebok.
Akhirnya mengerti juga.

Dibanding dengan penyakit saya TBC ini penyakit yang paling saya benci harus keluar masuk WC lalu mengambil pose yang sama terus menerus hingga kaki keram saat berdiri. Penyakit keterlaluan.

Saat agak mendingan berselang 10 s/d 20 menit penyakit ini kambuh lagi sampai kehabisan tenaga mendorong hal biasa itu keluar. Ketika berdiri kaki keram saat keluar WC tiba-tiba tenaga terkuras sepenuhnya dengan pantat yang masih terasa pedis. Ini keterlaluan.

Lalu putar badan dan balik lagi, keadaan itu terus berulang di waktu yang berbeda dengan tanggal yang sama.

Sekian dan Terima Kasih.

Cinta Itu Alasan

Entah kenapa ini saya bisa menuliskan kalau cinta itu alasan. Mau bagaimana lagi akhir-akhir ini saya tidak punya bahan tulisan karena sering tidur, maklumlah pengangguran sukses. Aamiin. Kata itu terlintas dalam pikiran saya disaat saya mengenang pacar, mantan calon pacar dan odot-odot saya waktu sekolah di SMA. Apa hubungannya, begini jika ini benar adanya akui saja dalam komentar dibawah post ini? Oke.

Biasanya dalam mendekati seorang wanita untuk menjadikannya pacar atau hal lain, Anda pastinya menjadi orang lain dari rumah Anda.

Biasanya jika Anda ingin menjadikan wanita itu pacar Anda atau mengambil hati wanita Anda, Biasanya Anda beralasan yang mungkin belum bisa terjadi di masa yang akan datang. Seperti, Aku mau sehidup semati denganmu cuma alasan, Aku janji tidak akan meninggalkanmu cuma alasan, Aku mencintaimu cuma alasan dan masih banyak lagi alasan yang Anda bisa buat.

Ini benar adanya dan fakta. Terjadi dalam kehidupan saya dalam menjalin hubungan dengan status pacaran. Kenapa saya mengatakan cinta itu alasan karena selalu ada kata yang keluar dari mulut Anda setiap ditanya Kenapa kamu cinta atau apa bagusnya mencintainya. Bagaimana?

Namun jika cinta dimasukkan dalam dunia agama beda lagi, cintanya bukan alasan melainkan cintanya ikhlas. cuma pemikiran saya kok.

Cinta jika dimaknai tidak ada kata yang pasti untuk menetapkan defenisi yang tepat untuk kata cinta, itulah kenapa cinta hanya bisa dirasakan oleh makhluk hidup sendiri.

Ikhlas jika diartikan dalam kamus indonesia berarti kemurnian, tidak memiliki campuran sama sekali namun jika diartikan dalam kamus agama menghendaki keridhaan Allah.

Tapi pada tulisan saya ini saya tidak membahas tentang cinta itu dalam aspek agama melainkan dalam aspek dimana saya pernah beralasan hanya untuk sebuah cinta sesaat saja.

Sekian dan Terima kasih.

Merasa Hebat, Berani Mondok Nggak?

Kau yang berpendidikan, yang belajar tentang sopan santun yang belajar tentang akhlak yang baik, hanya begitu pengaplikasiannya hanya begitu yang kau tahu, Aku yang membaca merasa kasihan.

Anak SD yang berada di Takkalasi, yang bersekolah di pondok pesantren DDI Takkalasi tahu yang kau lakukan itu adalah kedurhakaan terhadap orang tua (guru) mereka bebas namun mereka tahu akhlak yang baik. 

Dan kau yang bebas, hanya ikutan kepada bisikan syaitan disampingmu. Kau dilindungi oleh nama diatasmu jadi jangan bangga begitu tidak ada artinya di mata dan telingaku.

Kau punya teman ribuan tidak masalah bagiku, aku hanya punya teman ratusan yang dapat mengalahkan ribuan itu. Kau yang memimpinnya tenang saja kau hanya perlu menghadapi kami tanpa menurunkan pemimpin kami.

Kalian belum merasakan bagaimana nikmatnya hidup dipesantren.
Aku kasihan melihat kau mempermalukan dirimu sendiri dengan hal yang tidak terpuji.

Bagi kalian yang merasa sombong akan posisi orang tuamu, yang merasa hebat akan kejahatan yang kau lakukan. Kenapa tidak masuk di pesantren saja.
Agar rasa sombong itu menjadi rasa tawadhu, kejahatan itu menjadi kebaikan untuk masa depanmu. Berani?. Pastinya kau sedang bingung.

Datanglah kepesantren, dengan semua itu kau akan di arahkan menjadi manusia yang akan menjauhi hal seperti itu. 
Ini pernah terjadi pada diriku, Aku ini pernah seperti kalian yang memukuli guru melaporkan guru kepada orang tua atas apa yang mereka lakukan terhadapku namun akulah yang paling disiksa dirumah dicambuk dengan rotan, kabel ikat pinggang, walau aku sadar akan hal itu. Aku lebih memilih meninggalkan masa SMAku menuju pondok pesantren DDI Takkalasi. Disana akhirnya saya tahu semua yang kulakukan adalah kedurhakaan.

Jadi, Kau yang merasa hebat dengan memukul orang tua datanglah kepesantren untuk mengubah dirimu yang keji itu yang bangsat itu setelah itu kembalilah meminta maaf atas apa yang kau lakukan dulu.
Ini terjadi pada diriku sendiri. Kedurhakaan yang kau buat akan menjauhkanmu dari jalan-Nya. Terbukti.

Sekian dan Terima kasih.

9 Agustus 2016, Buku Tentang Gurutta

Setelah temu alumni DDI Takkalasi, 7 Agustus 2016 saya diberikan amanah untuk membantu membuat buku tentang gurutta, pimpinan pondok DDI Takkalasi. Saya terima saja. Begini, selama saya menullis saya tidak pernah membahas dalam satu buku itu tentang seseorang. Namun kali ini saya menerimanya dan saya harus menulis cerita tentang pimpinan pondok. Kalau orang lain bisa tapi ini pimpinan pondok, harus penuh percaya diri.

Saya suka jika saya sering mengelolah internet, jadi tidak ada masalah. Insya Allah, saya bisa saya orangnya pendiam jadi sulit untuk bergaul tapi urusan didalam kemampuan saya. Saya bisa.

Buku tentang gurutta harus selesai sebelum wisudah santri 2017, dan diperkenalkan kepada santri dan orang tua yang hadir.

Ini pekerjaan yang memerlukan kepercayaan diri, kalau tidak saya tidak bisa menulis buku tentang gurutta, saya harus bertanya dengan angkatan tertua DDI takkalasi dan guru serta pembina pondok pesantren DDI Takkalasi.

Jika buku ini selesai pada waktunya, saya bersyukur sekali kepada Allah. Ini buku saya pertama hadir di Sulawesi Selatan. Mau bagaimana lagi, buku saya hanya beredar di bagian jawa saja belum tembus ke SulSel.

Jika Anda ingin membaca buku ini, pastikan Anda hadir dalam acara wisudah santri DDI Takkalasi. Doakan kami agar supaya buku ini selesai sebelum wisudah santri.


Sekian dan Terima kasih.

8 Agustus 2016, Kembali Normal 'again'

Setelah temu alumni DDI Takkalasi "Tudang Sipulung" semuanya kembali seperti keseharian saya, mau bagaimana lagi saya tidak bisa tinggal berbulan-bulan di pondok. Orang tua saya menyuruh saya untuk kuliah. Sama halnya dengan pemikiran saya, Capek jadi anak durhaka terus. pemikiran itu terlintas saat saya berbaring sambil menatap bintang dan bulan menerangi malam. 

Kala itu setelah shalat Isya, depan Masjid Mujahidin Bottoe, pikiran saya selalu bernostalgia hanya dengan melihat, mendengarkan dan merasakan. Mencari jalan agar supaya saya tidak jadi anak durhaka 'Again' kalian juga begitu, sama halnya dengan saya tidak ingin jadi anak durhaka

Saya telah menganggur setahun, untuk keliling kota dan pelosot desa, dari Kota Barru, Makassar, Banjarmasin, Balik Papan, Palang Karaya, Bandung, Banyuwangi, Pambusuang dan terakhir ini Pare-pare. Yah saya lari dari rumah bahasa kasarnya, tidak ingin diatur terikat dengan orang tua. Tapi pada akhirnya tetap juga, saya kembali ke orang tua.

Semua kebiasaan saya kembali seperti biasa 'Again' setelah temu alumni DDI Takkalasi 2016. Hanya tidak ingin menjadi anak durhaka lagi, itulah saya hanya bisa menuruti perkataan orang tua walau saya dibuat mengeluh. Sekarang ini saya sedang melakukan pendaftaran ulang di STAIN Pare-pare yah, ini permintaan orang tua yang ingin melihat saya kuliah.

Kalian sebagai anak yang pernah durhaka dengan orang tua, pasti ada dalam hati Anda ingin membuat orang tua bahagia baik dunia dan akhirat. Yang hanya bisa Anda lakukan adalah Ada pada diri Anda begitu juga dengan saya.

Sekian dan Terima kasih.

7 Agustus 2016, Karena Keikhlasan

"Karena Keikhlasan" Kata ini kembali bernostalgia dipikiran saya, mau bagaimana lagi pikiran saya dipenuhi dengan kenangan-kenangan dari masa dimana saya belum merasakan penyesalan.

Yah, kata itu bermula saat saya mengikuti temu alumni DDI Takkalasi, pertama kali bagi saya "Tudang Sipulung" pukul 22:lewat ditempat. Hampir semua alumni yang memegang kendali acara dan ikut sebagai anak bawang berkata keikhlasan, begitu juga saat saya masih kelas satu Madrasah Tsanawiyah, pertama kali saya mengikuti pengajian setelah shalat magrib masih bersembunyi dibalik tiang masjid karena malu. Pasti kalian begitu diam malu-malu dengan wajah baru, saat kalian santri baru? akui saja.

Kembali lagi, kata itu mengingatkan saya masih berstatus santri baru. Pimpinan pondok saat itu (Alm.Ag.Puang Pase) saat itu beliau berkata kepada kami semua Ananda yang masih baru masuk dipondok ini, saat ananda melewati gerbang hijau disana, sifat buruk ananda, akhlak buruk ananda tinggalkan semuanya didepan gerbang sana. Yang ananda harus lakukan disini adalah menuntut ilmu agama dengan ikhlas menjadi kunci surga buat orang tua ananda.

Dan selama saya bersekolah dipondok, lalu pindah sekolah dan kembali lagi ke pondok selalu kata itu kembali bernostalgia dalam pikiran saya. Saya masih belum tahu apa saya ikhlas atau bagaimana, tapi apa yang saya dapat sedikit dari pondok hanya itu yang bisa saya terapkan dalam hidup saya. 

Selalu dengan kata ikhlas. 

Hari ini pun begitu, dari pagi, siang dan sore saat acara temu alumni secara resmi berlangsung selalu ada kata ikhlas yang terselip pada pembicaraan beliau,

"Dengan kecintaan kita dengan pondok, keikhlasan kita. Kita dapat menghadiri temu alumni ini"

"Bukannya saya sombong atau riya' tapi dengan keikhlasan saya menjalankan suatu usaha saya dapat mobil, motor, tanah, kebun, dll"

"Jika Anda melakukannya dengan ikhlas sesuai dengan motto kita, Insya Allah, Allah tidak akan mengecewakan kita"

"Yang saya pelajari dan yang saya tiru dari Gurutta Ambo Dalle adalah keikhlasannya"

"Masih banyak lagi dari pengalaman alumni, pembina, guru dan  pimpinan pondok tentang kata ikhlas"

Saya pribadi saat itu sebagai pendengar toh saja, saya ada rasa ingin seperti mereka, memiliki keikhlasan itu.
Hingga akhirnya saya hanya terdiam, melihat beliau berpendapat dengan canda tawa dan senyuman dalam ruangan yang kembali menyatukan beliau dengan keikhlasan.

Saya ingin seperti mereka memiliki keikhlasan itu.

Sekian dan Terima kasih.

5 Agustus 2016, Resiko Seorang Kakak

Ini sering terjadi jika Ibu saya tidak rumah atau sedang keluar kota, saya yang harus menyiapkan untuk keperluan dapur. Ini hal yang paling ribet dan harus saya kerjakan. Nenek sudah tua dan saudara dan saudari saya yang masih sekolah membuat saya kerepotan di pagi hari.

Yang satu susah untuk diatur kesekolah, yang satu masih kecil untuk mengerjakan hal seperti ini dan yang satunya lagi perlu perawatan akibat kecelakaan ambulance. Ribut jadi seorang kakak, belum lagi jika orang tua berharap penuh kepada saya sebagai seorang kakak.

Tanggal 6 Agustus 2016 saya akan ke pondok pesantren DDI Takkalasi, dalam rangka pengkaderan dan temu alumni dan dapur tidak ada yang urus, harus berpikir lagi kalau begini.

Saat saya ingin mengambil uang di bank BRI, nenek saya tanya Mau kemana? jangan pergi jauh belum datang ibu kamu. meninggalkannya dalam waktu beberapa hari akan ribut dan banyak hal yang akan terjadi.

Mau bagaimana lagi, jika nenek tidak bisa lagi melakukan hal seperti masa mudanya. Ini benar-benar resiko seorang kakak. Hanya bisa berdoa saja, semoga tanggal 6 Agustus Ibu pulang dari Rumah Sakit Wahidin Makassar.

Masih sama seperti sebelumnya menyiapkan makanan dirumah tanpa seorang Ibu.

4 Agustus 2016, Pendaftaran Selesai

Seketika beban yang ada dipikiran saya hilang setelah ujian masuk perguruan tinggi. Dari ujian SBMPTN dan UM-PTKIN yang semuanya tidak ada kata lulus, sekarang saya hanya bisa tinggal menunggu dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Kepala yang selalu memikirkan, membayangkan contoh soal hingga mata tidak bisa tidur dengan tenang. Keesokan harinya kembali seperti biasa, mandi pagi, bersiap-siap dan berangkat sama halnya dengan ujian SBMPTN dan UM-PTKIN.

Mengelilingi kota Parepare, menyaksikan aktivitas kota Parepare di pagi hari. Begitu ramai dengan seragam kerja dan sekolah namun tidak sedikitpun saya menyaksikan ada kemacetan di kota ini. Begitu damai dan sederhana.

Ratusan mata melihat kearah calon mahasiswa, sembari berkata dalam hati. Ujian yang saya dilaksanakan pada jam 09:45 namun dipercepat dengan keluarnya peserta sesi pertama.

Diruangan yang ber Ac, puluhan komputer telah berbaris dengan rapi seakan menunggu saya untuk duduk dihadapannya. Soal yang diberikan dan terpampang dengan jelas di monitor mungkin persis dengan ujian kemarin namun hanya dibagi sedemikian bagi hingga menjadi 100 soal dalam lima pembelajaran.

Angkat tangan mengajukan diri bahwa saya telah mengerjakan soalnya semua dan disaat itu pikkiran kembali normal tanpa ada beban. Hanya tinggal menunggu hari pelulusan saja.

27 Juli 2016, Pendaftaran Dan Tidur

Bukan salah orang lain atau salah orang rumah, tapi ini salah saya sendiri begadang hingga waktu subuh, lalu bersiap-siap untuk mendaftar tapi setelah mandi saya bukannya bersiap-siap malah ngipas mengeringkan badan sambil mengetik tulisan untuk postingan selanjutnya.

Rasa ngantuk mulai bertaburan di wajahku memeluk bantal guling dengan posisi handuk masih dikenakan, menutup mata perlahan namun pasti. Hingga akhirnya saya pun tidak tahu harus menulis apa saat ini.

Saya terbangun di jam 7 malam, saya berbaring kembali dan memukul kepala saya dan berkata dalam hati Kalau begini jadinya tidak akan pernah selesai itu Yah ini salah saya sendiri.

Menyadari kesalahan saya sendiri, saya masuk keruang tamu  solah-olah tidak pernah terjadi tapi saya yakin dalam hati Ibu saya berkata Tidak pergi lagi mendaftar kuliah seperti cambukan untukku walau ini hanya pemikiranku saja.

Sekian dan terima kasih.

26 Juli 2016, Masih Pendaftaran Kuliah

Saatnya untuk serius, tiga hari lagi pendaftarannya akan ditutup ini satu-satunya jalan agar saya bisa kuliah walau banyak jalan lainnya. Dari tahun kedua di SMA saya memang ingin kuliah ditempat itu. Jika ada yang berubah itu bukan saya namun keinginan oran tua. 

Bukannya saya tidak bisa berpendapat terhadap orang tua, melainkan saya tidak ingin jadi anak durhaka lagi atas pendapat saya yang tidak di setujui orang tua. Kalian yang pernah membantak orang tua atau membuat orang tua menangis pasti kalian tahu bagaimana rasanya, diselimuti kemarahan.

Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menutupi kedurhakaanku dengan berbakti kepada orang tua.

Besok saya akan mendaftar kuliah di STAIN Pare-pare mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam tapi sebenarnya jika dikampus itu punya jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir saya akan masuk disitu. Keinginan saya ini diluar dari orang tua.

Sekian dan Terima kasih.

25 Juli 2016, Pak Ju' Ultah

Sudah lama saya tidak kepondok DDI Takkalasi, mungkin sudah lima bulan terlalu sibuk dengan tulisan. Saya hanya bisa memantaunya dari sosial media. Sama halnya dengan hari ini, notifakasi dari facebook membuat saya penasaran dengan isinya. Ternyata hanya pemberitahuan yang ultah toh.

Saya scroll kebawah ada satu nama yang menarik perhatian saya.

Juhri Bungas Al Banjary

Untuk yang belum kenal dengan beliau silahkan bertukar salam dengan beliau. Sopan banget tulisannya, kalau dulu keseharian saya sering memanggil beliau dengan panggilan Pak Ju'.

Tanggal 25 Juli ini beliau sedang bersyukur dengan umur yang diberikan kepada Allah, masih bisa menjalankan, mendirikan dan mengabdi atas Perintah-Nya. Beliau sekarang mengabdi dan mengajar di pondok pesantran DDI Takkalasi, Beliau mengajar Bahasa Inggris tingkat MTs. Selain itu beliau juga seorang seniman kaligrafi, seorang penulis, dan masih banyak lagi kelebihan dari Beliau. Pak Ju' sekarang telah menikah beberapa tahun lalu jadi untuk kalian yang ingin mencari suami seperti Beliau, ada banyak di pondok pesantren.

Banyak hal yang saya dapatkan dari beliau, termasuk juga pengalaman hidup saat saya masih merasakan bekas keterpurukan di tahun 2013. Beliau bisa seperti ini bukan karena beliau jenius, namun beliau pernah berkata ikuti prosesnya berarti jika Anda ingin seperti beliau atau melebih beliau ikuti prosesnya. Walau merasa jenuh ikuti saja pembelajarannya. Tanpa sadar setelah Anda lulus, Anda dapat merasakan sendiri.

Panjang umur Pak Ju' semoga yang di doakan terwujud, Sehat selalu, jangan terlalu sering marah Pak Ju' nanti sakit. :D

Terima kasih Pak Ju' atas didikannya selama ini. Teruntuk pondok juga.


Sekian dan terima kasih.

13 Juni 2016, Saling Tidak Percaya

Seribu bahkan jutaan candaan telah menghiasi hari-hari kita baik semasa sekolah hingga sekarang ini, memberikan kenangan kalau kita pernah tertawa bersama, saling mengagumi dan saling melihat dari jauh. Namun semakinku melihatmu dari jauh pandanganku mulai kabur hingga aku tak dapat melangkah mendekatimu karena malu bertatap muka denganmu.

Aku sadar betapa kurangnya diriku dimatamu bahkan dimataku sendiri aku terlihat kurang. Wajahmu mulai buram, aku tak tahu yang mana dirimu semuanya terlihat sama terlihat buram.
Sesekali aku membasuh muka, menyegarkan mataku namun tak ada yang berubah sedikitpun hingga akhirnya kumelangkah menundukkan kepala dengan rasa tak percaya. Kau terlihat jauh dimataku bahkan hatiku.

Kini waktu itu terulang kembali, dengan wajahmu yang polos, bibir kecilmu yang manis, dan tubuhmu yang ideal "Inikah Dia ? Betapa anggun dan cantiknya Dia"

Hay kamu, ini bukan alasan yang kubuat-buat. Ini nyata kau membuatku jatuh pada pandangan pertama, kakiku tak dapat berdiri tegak dihadapanmu, kukuatkan diriku sambil mengatakan "Aku menyukaimu" namun kau tak percaya. Hingga akhirnya.

Kamu akhirnya percaya juga, tawa canda yang kuberikan adalah sebuah keyakinan, diriku bebas untuk mencintaimu. Dan kau membalasnya dengan kebebasan juga untuk mencintaiku.

Kau !

Nama yang tak pernah kupikirkan
Untukmu adalah cinta
Ribuan canda tawa menyatukan kita

Rasa ini nyata
Aku Mencintaimu
Harga tak bisa membayarnya
Masa yang kita lalui dengan canda tawa
Adalah alasan
Harus bersamamu

Karena canda tawa itu kita saling tak percaya namun takluk juga dengan keseriusan saat aku berkata "Ayo, Jalan berdampingan"


Sekian dan Terima kasih.

6 Juni 2016, Ramadhan Pertama

Marhaban Yaa Ramadhan, ucapan yang tiada hentinya untuk menyambut Ramadhan, bulan suci penuh ampunan-Nya. Sekarang ini dipeluk oleh selimut sambil menekan-nekan perut dan berkata dalam hati "Yaa Allah, kenapa tidak ada yang membangunkanku untuk sahur?" Inilah yang saat ini kurasakan, kelaparan di jam 10:54 karena tidak bangun sahur.

Membatalkannya akan menambah masalah lagi dan tak ada jaminan bagiku merasakan Ramadhan lagi kedepannya. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan, diberikan kesempatan merasakan Ramadhan dengan diri yang penuh dosa ini. Puasa sendiri di tahun ini bukan hal yang baru bagiku, tahun sebelumnya pun juga. Jauh dari orang tua dan keluarga tak ada yang membangunkan seperti sekarang ini, andai saja saya punya pacar seperti teman sosial media saya yang setiap hari ada kabar mungkin bisa dibangunkan tapi jomblo begini, malah seperti warga negara kelas tiga. Walau begitu terasa lucu saja, bahan makanan yang disiapkan untuk sahur hanya bisa dirapikan, disimpan dalam kulkas gabus ikan lalu ditutup rapat sambil menahan isi perut agar tidak keluar. "Wahai perutku tahan dulu yah... nanti kita balas saat berbuka puasa nanti ok !"


Akhirnya menunggu waktu berbuka puasa, puasa pertama akan makan apa yah? Hidup sendiri itu tidak enak kawan. Apalagi bagi kalian yang jomblo-jomblo saya juga diposisi itu jadi saya mengerti. Kalau berbuka tidak ada ucapan "selamat berbuka sayang" apalagi saat sahur tidak ada yang bangunin "Sayang sudah sahur, kalau belum, bangun donk sayang"

Sambil menyiapkan makanan untuk balas dendam, isi perut saya melakukan demonstrasi meminta haknya. "Lapar, lapar, lapar" saya kok belum lapar, hanya saja perut saya yang minta makan dari tadi.

Mie ayam soto, ikan asap, mangga rica-rica, perkedel udang, es buah soda, dan nasi sahur. Didepan mereka semua, saya tidak tahu mulai dari makanan yang mana. "Dug, dug, dug...." akhirnya berbuka puasa juga baca doa, tiga, dua, satu... (iklan)

Rencana mau habiskan semua makanan yang disiapkan, cukup dengan es buah soda segelas saja sudah kenyang begini. Parah nih perut. Mubassir lagi bah, simpan lagi nanti sahur kalau bangun habiskan semua makanan simpanannya.


Jangan lupa tarwih, masih puasa pertama sudah malas, nanti malasnya setelah Ramadhan. Malas tarwih jangan malas yang lain. Masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan bulan suci Ramadhan. Suatu kenikmatan yang paling besar. Jadi manfaatkan dan syukurilah kawan.


Sekian dan Terima kasih.