12 September 2016, Foto Kampung Orang

Beberapa hari yang lalu, saya dapat notifikasi dari Facebook.com seseorang telah menandai saya sebuah foto entah itu foto apa. Pikirku palingan itu hanya foto dengan caption kata. Jadi saya mengabaikan notifikasi tersebut.

Namun, tadi sore ini saya membuka akun facebook saya dengan nama I Bennu ternyata bukan notifikasi dengan gambar aneh tapi foto waktu saya masih belajar kitab tanpa kharakat kalau orang sini menyebutnya dengan kitta' gondolo. Fotonya seperti ini. Letaknya di Sulawesi Barat, Polewali, Balanipa, Desa Pambusuang.

Yang menulis itu saya, bukan orang lain

Kalau tidak salah saya menulis kitab sharaf ghaloppo waktu itu. Maklum, ingatan saya lambat jadi saya menulis semua kitab yang saya pelajari. Saya lebih suka menulis karena saya sering lupa makanya saya menulis jadi kalau saya lupa, saya hanya tinggal baca tulisan yang pernah saya tulis. Walau sedikit ribet tapi menyenangkan.

Saya dapat membuka tulisan saya, terkadang saya berkata Ini tulisan hancur banget, kayak cakar ayam disitulah saya kadang merasa seperti orang gila. Senyuman sendiri, tertawa sendiri sampai orang lain negur. Saya hanya bisa menjawab Cerita lama yang terbuka kembali. 

Jika suatu saat nanti saya tua atau saya sudah punya anak atau cucu jika mereka membaca tulisan ini semoga mereka bisa mengambil langkah untuk berani belajar di kampung orang. Seperti saya dan teman-teman saya kala itu di Pondok Pesantren DDI Takkalasi.

Sekian dan Terima kasih.

Cukuplah

Aku tidak seperti mereka yang pernah bersandar padamu sambil menghelus kepalamu dan berkata jangan khawatir aku ada disini. Setiap kali aku melihatmu bersedih aku bahkan tidak bisa untuk menghiburmu, disaat kau mengingat seorang yang telah lama bersamamu dan meninggalkanmu bersama nisan. 

Aku hanya bisa apa? mencoba menjauhimu tapi aku sangat mencintaimu. Mencoba memarahimu dan kau akan menganggaku tidak berperasaan. Aku tidak ingin seperti negatif yang ada dipikiranmu. Tapi aku sadar aku hanya hitungan waktu dari dia yang telah bernama dinisan.

Sadarlah aku ada disini, mencoba menghiburmu tapi hatiku termakan cemburu oleh rasa sayangmu terhadapnya. Aku mengakuinya kalau dia terbaik dariku. Tapi tolong sadarlah, Aku disini.

Aku lebih memilih untuk bernama dinisan jika aku harus melihatmu seperti ini, kau menghelus nisan itu sambil menangis terseduh-seduh dan mataku tidak dapat berpaling, mencoba kuat walau hati berderai perahan air darah terbakar habis dalam rebusan api cemburu.

Aku lebih memilih bernisan disana, dari pada aku harus berdiri disini melihatmu terseduh dengan air mata. Butiran air mata itu jatuh seakan kau tidak menerima aku berada disisimu.
Lalu apa makna dari hanya kau yang bisa membuatku berpindah dari hati yang telah berbatu ke hati yang lebih hangat. Apa? Aku sadar akan hal itu.

Cukuplah, Aku ada disini! disampingmu yang mencoba menghiburmu, yang mencoba menasehatimu, yang mencoba mengingatkanmu.
Cukuplah, Doakanlah dia disetiap sujudmu, walau bagaimana pun aku tidak akan bisa seperti dia, caranya mencintaimu. Aku seperti ini, seperti yang kau lihat. Hingga janji itu terwujud.

Cukuplah untuk dia, sekarang untukku. Waktu ini untukku bukan lagi tentang dia. Aku mencintaimu melebihi dia karena aku disini bersamamu. Aku mencintaimu selayak pendahulu kita. 

Sekian dan Terima kasih.

Satu Pandangan Dengan Hitungan Detik

Kemarin kau mengalihkan perhatianku setiap aku melihatmu dengan senyuman manis itu yang menghiasi wajahmu seraya mata ini tertunduk memohon ingin memandangmu lebih dan lebih lama lagi.

Tidak ada yang membahagiakan ketika itu terwujud dan tidak ada yang lebih menahan hati yang berusaha ingin bersamamu namun nyatanya tidak setatap. Ini hanya masalah yang terjadi padaku yang tidak dapat berpindah dari hati kenangan ke hati lembaran.

Kau cukup jujur padaku dan akupun begitu cukup jujur denganmu, Maaf ini hanya harapanku dan akhirnya ini terjadi lagi. Aku hanya bisa jujur seperti yang lalu yang dimana Dia mengajariku untuk jujur dari pada harus menjadi beban yang akan mengganggu hal lainnya.

Aku hanya pecahan berlian yang dilemparkan kedalam lumpur yang tidak tahu jalan untuk memilih dan melihat hanya terbawa arus hingga ada kau yang ingin membersihkan berlian itu dan merawatnya.

Kau dan aku adalah benda pemberian orang tua, menyatukan kita dalam satu pandangan dan pemikiran yang sama walau itu hanya hitungan detik, setidaknya kau dan aku pernah berpikir yang sama hingga akhirnya tidak ada lagi pandangan itu dariku, yang selama ini kupikirkan kembali bersama kata-kata yang kutulis rapi dalam sebuah jurnal blog yang kelak kau akan membaca.

Sekian dan Terima kasih.

Tulisan Yang Menggambarkan Perasaan

Sudah lama aku bergelut dengan jutaan kata yang tertulis rapi dalam setiap media sosial dan buku harian sebelum saya mengenal media sosial itu. Aku lebih suka dengan menulis dari pada angkat bicara terserah Anda mau menilai dari mana, pengecut atau hal lainnya itu sama bagi saya.

Tulisan ini memberikan saya harapan yang pasti, karena aku dapat mengubah kisah yang tidak sesuai dengan cita-citaku selama ini. Seperti pada buku yang pernah saya tulis Nyoknyang dimana kota Barru tidak lagi disebut dengan kota mati lagi. Walau sekarang masih dengan julukan kota mati.

Tulisanku hanya menggambarkan tentang perasaanku yang hampa akan sosokmu, kau yang pernah berjanji pergi pada akhirnya. Sejak saat itu saya mengutip kata dari komika pujangga wira nagara 'Kau yang punya pacar, yang kau pamerkan disetiap senja yang berlabuh jangan terlalu sombong karena pada akhirnya akan menjadi orang yang harus kau relakan bahagia dengan orang lain'

Aku pernah berpikir untuk tidak mengumbar perasaan ini walau menggebuh, merontah ingin memilikinya. Aku lebih memilih untuk mendiamkannya dan jujur dengan perasaan yang sama. Mau bagaimana lagi aku tidak seperti Anda yang punya kelebihan, aku dipenuhi dengan kekurangan ini nyata melekat pada tubuh saya sebagai manusia.

Perasaan bagaikan tulisanku yang tidak bertuan yang semua orang dapat membacanya tanpa menjadi pembaca setia. Diacuhkan, hanya lewat itu ciri tulisanku saat ini.

Jangan heran dengan tulisanku selama ini, buku-bukuku dan kata yang tidak bermakna apa-apa. Semua itu menggambarkan perasaanku selama ini.

Sekian dan Terima kasih.