16 April 2016, Bisa Blogging Lagi

Berbulan-bulan tidak dapat jaringan 3G rasanya Argh... Banget. Ibaratnya kamu tidak dapat kabar dari orang terkasih. Itu cuma ibaratnya saja. Sekitar bulan November saya tinggalkan rumah nenek ke Sulawesi Barat, Polewali Mandar, Pambusuang baru sampai dengan selamat kemarin.

Kemarin tanggal 14 April 2016, itu tulisan pertama saya setelah berbulan-bulan lamanya tak dapat jaringan 3G, mau bagaimana lagi ini demi masa depan saya walau saya belum melihatnya. Banyak yang ingin saya lakukan dihari ini, seperti baca komik di mangaku.web.id, lalu download anime dan film, film yang ingin saya saksikan film Raditya Dika yaitu Single. Kemarin mau nonton bareng di bulan Desember namun tidak jadi, harus berangkat ke Pambusuang. Sampai sekarang saya belum pernah lihat bagaimana itu film Single bahkan trailernya belum saya lihat sampai sekarang. Sudah kebiasaan kalau saya mau nonton film yaaa langsung filmnya bukan trailernya, biar berkesan Kurang ajar nih film, gue harus koleksi film ini. Maklum sudah kebiasaan ada film yang bisa buat saya mengeluarkan perasaan saya, koleksi filmnya dan hampir semua film Raditya Dika saya punya kecuali malam Minggu Miko. Keren tulisannya Bang Dit.

Banyak yang ingin saya lakukan mulai hari ini yang lebih penting sering ngepost di bennulog.blogspot.com Saya mulai gemar menulis itu setelah kejadian kemarin di tahun 2013, ketika saya hanya bisa nangis dan tak bisa berbicara langsung maka dari tulisan saya. Saya curhat seperti air yang mengalir untuk mereka baca dan tahu apa yang selama ini saya rasakan.

Dari kererpurukan saya, dari kesedihan yang saya alami berbulan-bulan, dari kegelapan yang saya tempati akhirnya membawa saya menuju kedewasaan dan menemukan pemikiran saya yang tertelan kegelapan dan kesedihan.

Banyak yang ingin saya lakukan mulai saat ini.

Sekian dan Terima kasih.

Pertemuan Adalah Alasan Untuk Berpisah

Orang Mandar, Pambusuang menyebutnya dengan *Ad Diba'i* kata itu yang memperkenalkanku dengannya. Sejauh kaki melangkah untuk menolak kehadirannya walau tak mengundangnya Ia tetap akan datang juga. Sebuah sapaan yang memulai semuanya hingga akhirnya kenyamanan yang dihasilkan. Perlahan memberi warna, perlahan mekar dan perlahan menyebarkan harum hingga mata meliriknya dan ingin memetiknya, darah memenuhinya menolak yang ingin memetiknya memberi isyarat mawar tak ingin tangkainya dipatahkan.

Aku hanya bisa duduk memandangnya walau mataku tak sempurnah dulu. Membersihkan sisa-sisa darah yang menyatu dengannya. Menyiraminya membuatnya tersenyum... Tertawa melupakan darah yang pernah menyakitinya.

Hari demi hari, aku selalu mengabarinya agar Ia tak layu namun hal itu tak dapat di cegah. Keinginan untuk memilikinya membuatku merasakan sakit menusuk bersama durinya. Semakin erat kugenggam semakin rasa sakit itu menyiksa dan semakin Ia di tarik genggamanku mulai melemah karena luka dari dirinya.

Hingga akhirnya, tanganku berlumuran darah mengingatkannya akan darah itu yang pernah menyatu dengannya. Aku bercerita di depannya sambil memeluknya mencium kelopaknya namun Ia tetap tak ingin. Aku sadar keberadaanku selama ini mengingatkannya akan darah yang pernah menyatu dengannya. Menunduk tak percaya akan semua ini menerima kenyataan yang tak pernah direncanakan.

Menjauh darinya adalah alasanku untuk tak mengingatkannya akan luka itu.

Sebaik-baik aku merawatmu pada akhirnya akan ada orang lain yang akan menikmati warna indahmu, mekarnya dan harumnya yang kamu sebarkan. Hingga aku memilih untuk memandangmu dari jauh.

Pertemuan adalah alasan untuk menemuimu, merajut asa bersamamu hingga pertemuan itu berakhir dengan perpisahan.

Sekian dan Terima kasih.

14 April 2016, Senyuman Untuk Pambusuang

14 Maret 2016, hari terakhir bersama mereka dirantauan. Menuntut ilmu agama bukan banyak atau sedikitnya melainkan berkah dari ilmu itu. Belajar membaca dan menulis kitab kuning atau kitab tanpa kharakat, orang Bugis bilang kitta' gondolo. Dari awal menginjakkan kaki di Pambusuang ini ada perasaan tidak ingin kembali ke kampung halaman, Banyuwangi. Namun hari dimana saya dan mereka akan berpisah tidak bisa dibantah lagi. Ada tuntutan orang tua yang harus saya jalankan, kuliah. Kalau bukan karena orang tua, saya akan tinggal lama di Pambusuang ini, polewali mandar. Sudah direncanakan jauh sebelumnya, saat orang tua bertanya bagaimana pendaftaran kuliahnya. Maka dari itu saya dan mereka membuat agenda mendaki gunung sebelum saya meninggalkan mereka duluan.

Seolah-olah terlihat bahagia. Ada canda dan tawa yang hadir bersamaan dengan itu kebersamaan dan keras kepala pun juga hadir, tidak apalah setidaknya ini hari terakhir saya bersama mereka dan saya harus menikmatinya seperti hari sebelumnya.

"Malam yang dingin membeku kuayunkan langkah kakiku menyusuri hamparan hijau mencari kayu bakar" sedikit-dikit mengubah lirik lagu dari Tommy J Pisa. Ampun betul ini malam, dinginnya seperti memeluk saya walau ini yang ketiga kalinya tapi tetap tak ada yang berbeda. Mulai dari mendakinya hingga malamnya.

Aku senang mereka merencanakan hal ini biasanya saya yang paling malas ada acara perpisahan seperti ini, seolah tak ada yang tahu tentang saya namun mereka merencanakan hal ini mencoba mengumpulkan asrama tiga menyempatkan ikut mendaki. Mereka semua stres dengan gaya mereka.

Pertama Niswar, Saya memanggilnya Usman. Dia yang mengajar saat pertama kalinya ke Pambusuang. Dia yang paling sering suasana hatinya berubah-ubah. Lalu ada Fajri, Saya memanggilnya penne. Dia pendatang baru. Lalu Aan saya memanggilnya Sombong sama dengan Fajri pendatang baru juga. Lalu syukri, saya memanggilnya anangguru. Dia selalu hadir tiba-tiba menyampaikan hadits dan ayat yang baru dia pelajari. Lalu Syauki, saya memanggilnya cokki. Dia yang mengajarikan saya soal Pambusuang. Lalu Mukhlis, saya memanggilnya Walli. Karena dia dipanggil begitu dengan Puang Zaid. Lalu Ilham, saya memanggilnya Jerapa. Karena dia dipanggil begitu sama pacarnya. Lalu Ikhsan, saya memanggilnya Awo. Karena orang-orang memanggilnya juga begitu. Lalu Arding, saya memanggilnya drakula karena bagian depan giginya cippe berbentuk segitiga. Lalu ada Halim, saya memanggilnya Ling karena pertama kali kenal denganya namanya yang paling sering terlupakan, dia juga seorang hafidz Qur'an. Lalu Salamattang, saya memanggilanya Mattang. Lalu Anwar saya memanggilnya Ibang. Lalu ada Nauval saya selalu memanggilnya Kuttu. Lalu ada Ade, saya memanggilnya Pungke (Pujangga Kecil). Lalu ada Akil dan masih banyak lagi yang lain yang tidak bisa saya tuliskan.

Terima kasih kepada mereka yang sempat mendaki bersama walau saya yang duluan capeknya walau saya yang paling banyak berhentinya, saya berterima kasih banyak dengan mereka semua. Entah kapan lagi saya bisa kesini belajar menuntut ilmu yang tiada habisnya. Suatu kebanggaan saya bisa menuntut ilmu walau kurang waktu empat bulan. Terima kasih banyak. Sampai mereka harus rela menunggu bus berjam-jam bersama saya dipinggir jalan depan masjid Husain.
Potret terakhir bersama mereka.


 

Terima Kasih

Aku bukanlah apa yang mereka kira terhadapku. Sebab aku tak bisa di kira-kirakan dengan matamu aku kepastian disaat aku mencintaimu namun aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa untukmu.

Aku terlalu bodoh dengan perasaan ini, terlalu percaya dengan hal yang tak pasti. Aku mencintaimu. Kata yang memenuhi pikiranku, namamu melayang-layang diimajinasiku merangkai ribuan kata, jutaan kata namun mengandung satu kata yaitu namamu. 

Aku ingin kembali ke bulan Maret, dimana aku dan kamu masih tertawa tanpa ada rasa yang membelenggu erat. Maaf. Kata itu yang bisa kuucapkan, kata yang ampuh untuk meminta belas kasihmu.

Aku tak menyesal jika aku harus mencintaimu dan aku tak menyesal juga jika aku harus memandangmu dari jauh sambil tersenyum namun aku menyesal akan diriku yang harus berpura-pura membuang perasaan ini.

Terima kasih, kepada seorang yang kucintai dalam diamku.

Sekian dan Terima kasih.

Tanpa Kamu, Aku Adalah Pembohong

Kamu adalah alasanku untuk meninggalkan masa laluku, menatap masa depan yang telah lama aku buang dimataku. Jeruji api yang mengurungku kini padam melihat air matamu menetes membasahi pipimu dan mengenai keningku membuatku tersadar akan kebodohanku selama ini. Sedangkan aku, adalah keinginan untuk bersamamu.

Aku jatuh cinta denganmu.
Dirimu menjadi alasanku.
Ingin memilikimu.
Bersamamu.
Aku bahagia denganmu
Hingga hantu masa lalu menjauh dariku.

Kamu dan aku adalah sebuah alasan untuk bersatu, menyempurnakan apa yang telah hilang. Memadukan rasa menjadi kebahagian akhir bersamamu. Bahwa sahnya aku dan kamu adalah sebuah puzzle untuk disatukan bukan di pisahkan. Namun canda tawa yang kuberikan adalah kebohongan, agar aku bisa dekat denganmu walau aku sadar akan rasa sakit mencintaimu dalam diam namun aku bahagia bersamamu. Ribuan kata yang kutulis menyimpulkan sebuah kata. Yah kata itu adalah namamu.

Maafkan aku atas semua yang telah kulakukan, yang hanya bisa mencintaimu dalam diam.

Sekian dan Terima kasih.