Tidur Dari Pada Di Tidurkan

Bahasa kerennya G.A.L.A.U (gagal menjadikanmu untukku) itu yang sekarang ini aku rasakan. Aku mencintainya namun Dia tak mencintaiku, padahal kita saling menyayangi dan untuk sekian kalinya teoriku membenarkan bahwa walau rasa sayang itu sama belum tentu saling mencintai.

"Suka atau nyaman, saling sayang dan mencinta"

Walau rasa ini nyata, pada dasarnya tidak bertuan. Entah bagaimana lagi aku harus bertahan di situasi ini, aku hanya bisa diam menyimpan rasa cinta ini dengan rapi seperti wanita-wanita yang dulu. Pernah bersamaku terikat dalam nafsu.

Perasaan ini telah lama tidur, terbangun untuk ditidurkan, kenapa Dia harus bangun jika untuk ditidurkan kembali. Padahal kita saling sayang dan pada akhirnya juga, seperti mereka sebelumnya aku hanya mewujudkannya menjadikannya milikku dalam cerita yang kutulis, tetesan yang tak bermakna dan cerita yang tak dihargai. Disatukan dalam sebuah buku tua yang telah tidur dibangunkan untuk ditidurkan kembali.

Jangan Terlalu Khusyu'

Apa yang hari ini kamu ketahui, itu adalah hasil dari usahamu kemarinWalau kamu dianugrahi kecerdasan dan kecerdasan itu kamu tidurkan pastikanlah hari ini kamu akan rasakan penyesalan.

Seperti itulah yang  saya rasakan saat pengajian tadi. Pujian dan sanjungan yang dulunya saya terima menjadi bentakan keras buat saya. Wajah yang dulunya ceria, wajah yang sering tersenyum manis. Memerah panas layaknya kecewa.

"Jangan terlalu khusyu" kata yang menampar keras wajah saya. Curahan hati dari seorang guru yang selalu memuji dan menyanjung. Kata yang begitu halus sampai saya harus berpikir lama menemukan makna terkandung didalamnya.

Jangan terlalu khusyu' Khusyu' dalam bahasa Indonesia berarti diam dan saya diam saat tidur. Jangan terlalu khusyu' atau jangan jadi tukang tidur. 

Cuma kata itu yang menampar saya keras dan keras dan saya sadar akan hal itu. 

Walau dirimu dianugrahi kecerdasan namun kamu tak memanfaatkannya di usia mudamu penyesalan itu akan datang. Yakinkanlah itu seperti kamu yakin akan kematian yang menjemputmu.

Sekian dan Terima kasih.

Hati Yang Berkehendak

Hati tak tentu arah, mengukir kata tak tentu arah pula. Sebaris kata mesra menyiram bunga yang telah lama mati "Aku Cinta Kamu". Terbawa mimpi mencoba meraba, indahnya takkan binasa hapuskan lara tepiskan perih-perih yang ada.

Hay Kampret, kau perempuan yang membuatku tersiksa. Mimpikan aku berbisik lembut dalam telingamu. Dari hati yang selalu rindu, ingin melihatmu berganti 'HAL' denganku.

Pejamkan mata, cintalah yang berbicara. Indahmu bagaikan kertas yang tak tertuliskan apapun dan sifatmu bagaikan ludahku yang keluar bersama manisnya janji.
Andai tangan ini berkharisma layaknya ibuku, akan kutuliskan keindahanmu namun menulis perasaanku disini, sudah cukup menepiskan yang ada.

Sekian dan Terima kasih.

Kisahmu Indah Di Tanganku

Sebelum semua ini terjadi. Ada suara ketukan dalam dada, bidadari surga yang menjanjikan kebahagiaan. Suatu yang sangat indah, hingga sulit untuk memikirkan keindahan itu, garam pun manis jika dapat. Itu dulu sebelum ini terjadi, sungai duka yang terus mengalir membanjiri sandaran sang pemimpi.

Inilah cinta yang berakhir dengan pengkhianatan. Menguatkan hati dan rasa menjadi debu sisa pandangan mata. Mewarnai hari dan dunia dengan satu warna.

Kamu bilang itu indah dan itu manis. "Cuih" janji yang kau berikan, ludahku lebih terasa ketimbang janji yang kau berikan.
Cinta itu bukan permainan namun keikhlasan. Hingga akhirnya aku mengerti, mengubah kisahku dengan tanganku.

Sekian dan Terima kasih.

Bukan Salah Cinta Tapi Aku

Memudarlah semua kenangan yang kau berikan, didasar hati yang tersisa penyesalan tak ada lagi kisah cinta yang tersisah.
Aku terpuruk terjatuh memandang langit, melihat dirimu menari-nari tanpa penyesalan sama sekali. Penderitaan ini akan terus berlanjut, merasakan sakit dari pengkhianatanmu, kasih sayang menjadi pahit keegoisan.

Kenapa ?

Hatiku berkata lain, tak bisa membencimu. Apakah karena cinta? Bukan.
Jadi ini apa? Aku hancur demikian juga hatiku namun aku tak dapat membencimu.

Bukan karena itu, itu salahmu yang berani melangkah berpindah ke hati yang lebih hangat. Karena diriku. Bukan karena cinta.

Sekian dan Terima kasih.

Kejujuran Mustatir

Hari-hari yang kamu berikan membuatku mengerti akan hal yang sama, ini serius bukan ucapan kata romantis yang sering kuucapkan demi membuatmu terlupa akan masa lalumu. Ini serius, seserius dia meninggalkanmu demi wanita yang tak kamu miliki.

Aku suka, aku senang, aku nyaman dan sayang, namun aku sadar akan rasa ini, bercanda. Aku takut akan kehilangan, mungkin aku cengeng, yah itu memang. Jika aku harus untuk memilih antara kehilangan dan penolakan, walau mulutku kututup rapat hatiku memilih penolakan.


Rasa yang berkumpul dalam satu ikatan, berjalan berdua menatap masa depan demi janji yang memberi harapan. Hingga akhirnya aku sadar kalau itu semua telah hilang saat kau berkata Aku tak cinta lagi begitu mudah terucap, memaksa rasa, kaki dan harapan lenyap melekat dalam hati demi Aku tak cinta lagi Aku takut akan kehilangan itu walau diriku kuat, sisi cengeng itu pasti dan pasti akan muncul sekuat apapun dirimu, saat kamu kehilangan.

Aku sayang kamu tiga kata yang sederhana, sesederhana dirimu, terucap dari mulut manismu, membuatku tak percaya walau rasa itu juga ada dalam diriku. Ketika aku berkata berikanlah aku salah satu dari kehilangan dan penolakan?

Aku tak membawa maksud dari hal yang kamu pikirkan karena aku ikhlas menyapamu waktu itu. Bukan untuk kakakmu, kejelasan dari tanda tanya besar waktu itu. Hanya sebuah sapaan membawa canda dan tawa, memberikan kenyamanan, terbawa kasih sayang hingga melahirkan cinta.

Jika aku pantas untuk kata itu, aku berterima kasih, sangat berterima kasih sebab aku juga punya rasa itu, menggebuh dalam hati. Walau itu hanya drama demi candaan untuk menepiskan sakit dihatimu. Aku tak peduli walau itu drama, deburan ombak menghantam karang. Demikian juga, rasa ini nyata... Nyata... Nyata... Aku sayang kamu juga.

Sekian dan Terima kasih.