Sama halnya dengan hari pertama, habiskan rokok dua batang sampai di STAIN Pare. Hingga dengan senamnya. Namun kali ini senamnya cukup berbeda dari yang lain, senamnya kali ini senam otak yang menggunkan gerakan tangan.
Setelah itu kembali seperti biasa yang membosankan namun seru, menerima materi OPAK, rasa ngantuk yang menghantui sisi kanan kiri saya, keringat yang keluar dari pori-pori wajah yang kepanasan. Lebih panas dari saat kau berhadapan dengan pacar baru yang ingin kau cium namun takut karena ketahuan atau kepanasan saat melihat wanita berjilbab tertutup aurat dengan wajah cantik dan sedang menghampirimu setelah itu orang disekitarmu berucap, salut dan tidak percaya.
Rasa tidak nyaman, merangkul tubuhku membuatku tertunduk ingin tertidur namun tidak lama dari itu teriakan seperti seorang yang sedang memanggil pencuri. Teriakan keras serak-serak cempreng, seketika memutar kepala para peserta dan menaikkan leher yang tadinya layu kembali berdiri seperti saat kau melihat seorang wanita dipinggir pantai dengan body yang kau cintai atau sebaliknya juga.
Yah, kerasukan. Bagiku hal biasa yang terjadi disekolahku dulu hingga sekarang itu hal biasa. Mau bagaimana lagi saya diajarkan untuk bagaimana menetralisir orang yang kerasukan, membentengi diri dari hal yang seperti itu dan hal serupa lainnya.
Saya sebagai seorang peserta OPAK, sangat tidak setuju dengan bapak dan panitia yang berkata Hari kedua OPAK, jika masih ada yang panjang rambutnya kami akan cukur. Nyatanya dari awal masuk OPAK kedua, hingga akhir acara masih ada yang menggunakan rambut diatas dua atau tiga centi meter.
Kenapa mereka bisa melupakan kata yang mereka katakan sebelumnya dengan begitu mudah. Atau itu hanya gertakan untuk kami yang taat aturan atau mereka tidak dapat mencukur peserta OPAK?
Hingga akhirnyapun sama dengan hari pertama OPAK, dengan suasana sama, warna yang sama, dan jiawa yang sama saat meninggalkan kampus hijau STAIN Pare pare.
Yah, kerasukan. Bagiku hal biasa yang terjadi disekolahku dulu hingga sekarang itu hal biasa. Mau bagaimana lagi saya diajarkan untuk bagaimana menetralisir orang yang kerasukan, membentengi diri dari hal yang seperti itu dan hal serupa lainnya.
Saya sebagai seorang peserta OPAK, sangat tidak setuju dengan bapak dan panitia yang berkata Hari kedua OPAK, jika masih ada yang panjang rambutnya kami akan cukur. Nyatanya dari awal masuk OPAK kedua, hingga akhir acara masih ada yang menggunakan rambut diatas dua atau tiga centi meter.
Kenapa mereka bisa melupakan kata yang mereka katakan sebelumnya dengan begitu mudah. Atau itu hanya gertakan untuk kami yang taat aturan atau mereka tidak dapat mencukur peserta OPAK?
Hingga akhirnyapun sama dengan hari pertama OPAK, dengan suasana sama, warna yang sama, dan jiawa yang sama saat meninggalkan kampus hijau STAIN Pare pare.
No comments:
Post a Comment
Berikan Komentar Anda Untuk Tulisan Ini...